BILINGUALISME DAN DIGLOSIA
Makalah ini disusun
guna melengkapi tugas
Mata Kuliah
Sosiolinguistik
Dosen
:
Prembayun
Miji Lestari
Disusun oleh
Nailufar
Halilatul. A (2601413101)
Teguh
Arif Tri
Budi Aji (2601413102)
Nurul
Hidayah (2601413103)
Shinta
Wulandari (2601413104)
Rizky
Fitriani (2601413105)
BAHASA DAN SASTRA JAWA
UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Fenomena bilingualisme dan diglosia itu merupakan itu
merupakan pokok kajian yang menarik, bukan saja karena aspek teorinya,
melainkan juga aspek aplikasinya dalam kenyataan penggunaan
bahasa.Contoh-contoh konkrit dapat anda temukan dalam kehidupan anda sehari-hari.
Masing-masing fenomena bilingualisme dan diglosia akan dibahas dari segi
hakikat atau acuan konseptual dan dari segi profilnya. Bilingualism dan
diglosia adalah pokok yang sangat berhubungan, kadang-kadang ada tumpang tindih
jika terhadap dua fenomena ini.
Dilihat dari jumlah yang digunakan
dalam masyarakat bahasa, ada masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa
atau lebih.Masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa dan ada yang
menggunakan bahasa yang dua atau lebih.Masyarakat bahasa yang menggunakan satu
bahasa disebut monolingual dan masyarakat bahasa yang menggunakan dua bahasa
atau labih disebut biligualisme. Menurut Ferguosa, diglosiaadalah fenomena
penggunaan ragam bahasa yang dipilih sesuai dengan fungsinya. Diglosia dalam
masyarakat bahasa yang memiliki satu bahasa dengan dua ragam(tinggi dan rendah)
yang memiliki peranya masing-masing.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat bilingualisme?
2. Bagaimana hakikat diglosia?
3. Bagaimana hubungan bilingualisme dan
diglosia?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana hakikat
biligualisme
2. Untuk mengetahui bagaimana hakikat
diglosia
3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan
bilingualism dan diglosia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 BILINGUALISME
Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam
bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan dalam Kamus Linguistik, bilingualisme diartikan sebagai pemakai dua bahasa atau lebih
oleh penutur bahasa dalam pergaualan sehari-hari secara bergantian.Untuk dapat
menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu.
Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1), dan yang
kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2).
Istilah bilingualisme adalah istilah
yang pengertiannya bersifat relatif. Kerelativitasan ini muncul disebabkan
batasan seseorang disebut multilingual bersifat arbitrer dan hampir tidak dapat
ditentukan secara pasti. Mula-mula bilingualisme diartikan sebagai kemampuan
untuk menggunakan dua bahasa sama baiknya oleh seorang penutur, namun pendapat
ini makin lama makin tidak populer karena kriteria untuk menentukan sejauh mana
seorang penutur dapat menggunakan bahasa sama baiknya tidak ada dasarnya
sehingga sukar diukur dan hampir-hampir tidak dapat dilakukan (Suwito,
1983:40).
Istilah bilingualisme dalam bahasa
Indonesia disebut juga kedwibahasaan (Chaer, 2004:84). Dari istilah yang
dikemukakan oleh Chaer tersebut, dapat dipahami bahwa bilingualisme atau
kedwibahasaan berkenaan dengan pemakaian dua bahasa oleh seorang penutur dalam
aktivitasnya sehari-hari.
Ada beberapa ahli yang menerangkan
tentang pengertian kedwibahasaan atau bilingualisme. Salah satunya adalah
Weinrich (Aslinda, dkk., 2007:23), ia menyebutkan kedwibahasaan sebagai ‘The
practice of alternately using two language’, yaitu kebiasaan menggunakan dua
bahasa atau lebih secara bergantian. Dalam penggunaan dua bahasa atau lebih,
jika melihat pengertian menurut Weinrich, penutur tidak diharuskan menguasai
kedua bahasa tersebut dengan kelancaran yang sama. Artinya bahasa kedua tidak
dikuasai dengan lancar seperti halnya penguasaan terhadap bahasa pertama.
Namun, penggunaan bahasa kedua tersebut kiranya hanya sebatas penggunaan
sebagai akibat individu mengenal bahasa tersebut.
Hal di atas tidak sejalan dengan
pengertian bilingualisme menurut Bloomfield (Chaer, 2004:85) yang mengemukakan
bahwa kedwibahasaan adalah native like control of two languages. Menurut
Bloomfiled mengenal dua bahasa berarti mampu menggunakan dua sistem kode secara
baik. Pendapat Bloomfiled tersebut tidak disetujui atau masih banyak
dipertanyakan karena syarat dari native like control of two languages berarti
setiap bahasa dapat digunakakn dalam setiap keadaan dengan kelancaran dan
ketepatan yang sama seperti bahasa pertama yang digunakan penuturnya.
Selain kedua pengertian menurut dua
ahli di atas, ada juga Diebold (Chaer, 2004:86) yang menyebutkan adanya
bilingualisme atau kedwibasaan pada tingkat awal (incipient bilingualism).
Menurut Diebold, bilingualisme tingkat awal ini ‘…yaitu bilingualisme yang
dialami oleh orang-orang, terutama oleh anak-anak yang sedang mempelajari
bahasa kedua pada tahap permulaan. Pada tahap ini bilingualisme masih sederhana
dan dalam tingkat rendah’.
Jika melihat pernyataan Diebold, benar
kiranya apabila kedwibahasaan yang banyak digunakan oleh orang-orang adalah
kedwibahasaan atau bilingualisme pada tingkat awal. Dalam kegiatan sehari-hari
tentunya kita pun tanpa disadari hampir selalu melaksanakan bilingualisme pada
tingkat awal ini. Namun, kebanyakan orang pada masa sekarang cenderung tidak
menguasai kedua bahasa yang digunakannya dengan tepat.
Selain itu, Chaer (2004:86) mengutip
pendapat Lado bahwasanya bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh
seseorang sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada
pengetahuan dua buah bahasa bagaimana pun tingkatnya. Pendapat Lado tersebut
rasanya mendukung pernyataan Diebold tentangincipient bilingualisme, karena
Lado tidak menyebutkan sebagaimana Bloomfiled bahwa penguasaan seseorang yang
menganut bilingualisme terhadap bahasa keduanya harus sama dengan bahasa
pertama yang digunakan.
Selanjutnya, Mackey dan Fishman (Chaer,
2004:87), menyatakan dengan tegas bahwa bilingualisme adalah praktik penggunaan
bahasa secara bergantian, dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain, oleh
seorang penutur. Menurut Mackey dan Fishman, dalam membicarakan kedwibahasan
tercakup beberapa pengertian, seperti masalah tingkat, fungsi, pertukaran/alih
kode, percampuran/campur kode, interferensi, dan integrasi. Pengertian
bilingualisme menurut Mackey dan Fishman inilah yang dirasa sangat relevan bagi
penulis.
Dari beberapa pengertian bilingualisme
oleh beberapa ahli di atas, konsep umum bilingualisme adalah digunakannya dua
buah bahasa secara bergantian oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan
orang lain. Hal ini tentunya akan menimbulkan sejumlah masalah. Masalah-masalah
tersebut di antaranya adalah sebagai berikut lengkap beserta penjelasannya.
a.
Taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai dengan baik)
sehingga dia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual. Bilingualisme
merupakan satu rentangn berjenjang mulai menguasai B1, kemudian tahu sedikit
akan B2, dilanjutkan dengan penguasaan B2 yang berjenjang meningkat, sampai
menguasai B2 sama baiknya dengan B1.
b. Pengertian bahasa
di dalam bilingualisme itu sangat luas, dari bahasa dalam pengertian langue,
seperti bahasa Jawa dan bahasa Madura, sampai berupa dialek atau ragam dari
sebuah bahasa, seperti bahasa Jawa dialek Surabaya dan bahasa Jawa dialek
Banyumas.
c. Waktu yang tepat
untuk menggunakan B1 dan harus menggunakan B2 bergantung pada lawan bicara,
topik pembicaraan, dan situasi sosial pembicaraan. Jadi, penggunaan B1 dan B2
tidaklah bebas.
d. B1 seorang bilingualis
bisa mempengaruhi B2-nya atau juga sebaliknya. Masalah ini menyangkut masalah
kefasihan menggunakan bahasa itu dan kesempatan untuk menggunakannya.
e. Bilingualisme bisa
terjadi pada individu dan juga pada kelompok
2.2
DIGLOSIA
Kata diglosia
berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang perna digunakan oleh
Marcais, seorang linguis Prancis.Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk
menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu
bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu.
Definisi diglosia menurut Ferguson adalah:
1. Diglosia adalah
suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain terdapat sejumlah
dialek-dialek utama dari satu bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain.
2. Dialek-dialek
utama itu di antaranya, bisa berupa sebuah dialek standar, atau sebuah standar
regional.
3. Ragam lain itu
memiliki ciri:
·
Sudah
terkodifikasi
·
Gramatikalnya
lebih kompleks
·
Merupakan
wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati
·
Dipelajari
melalui pendidikan formal
·
Digunakan
terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal
· Tidak digunaakan dalam percakapan
sehari-hari
Diglosia ini dijelaskan oleh
Ferguson dengan mengetengahkan sembilan topik, yaitu:
1.
Fungsi,
merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurut Ferguson dalm
masyarakan diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa: variasi pertama
disebut dialek tinggi (T), dan yang kedua disebut dialek rendah (R).
2.
Prestise,
dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menganggap dialek T lebih
bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan merupakan bahasa yang logis.
Sedangkan dialek R dianggap inferior, malah ada yang menolak keberadaannya.
3.
Warisan
Kesusastraan, pada tiga dari empat bahasa yang digunakan Ferguson sebagai
contoh terdapat kesusastraan di mana ragam T yang digunakan dan dihormati oleh
masyarakat bahasa tersebut.
4.
Pemerolehan,
ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan
ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan.
5.
Standardisasi,
karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan
kalau standardisasi dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui kondifikasi
formal.
6.
Stabilitas,
kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama di mana
ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat
itu.
7.
Gramatika,
Ferguson berpandangan bahwa ragam T dan ragam R dalm diglosia merupakan
bentuk-bentuk dari bahasa yang sama. Namun, di dalam gramatika ternyata
terdapat perbedaan.
8.
Leksikon,
sebagian besar kosakata pada ragam T dan ragam R adalah sama. Namun, ada
kosakata pada ragam T yang tidak ada pasangannya pada ragam R, atau sebaliknya,
ada kosakata ragam R yang tidak ada pasangannya pada ragam T.
9.
Fonologi, dalam
bidang bidang fonologi ada perbedaan struktur antara ragam T dan ragam R.
Perbedaan tersebut bisa dekat bisa juga
jauh.
Pada bagian akhir dari artikel
Ferguson menyatakan bahwa suatu masyarakat digllosis bisa bertahan dalam waktu
yang cukup lama meskipun terdapat “tekanan-tekanan” yang dapat melunturkannya.
Tekanan itu antara lain, (1) meningkatkan kemampuan keaksaraan dan meluasnya
komunikasi verbal pada satu negara; (2) meningkatnya penggunaan bahasa tulis;
(3) perkembangan nasionalisme dengan keinginan adanya sebuah bahasa nasional
sebagai lambang kenasionalan suatu bangsa.
Juga dipersoalkan, rgam mana yang
akan dipilih menjadi bahasa nasional, ragamT atau ragam R. Dalam hal ini ada
dua kemungkinan. Pertama, ragam R dapat menjadi bahasa nasional karena ragam
itulah yang dipakai dalam masyarakat. Kedua, ragam T yang akan menjadi bahasa
nasional atau bahasa standar, asal saja (1) ragam T itu sudah menjadi bahasa
standar pada sebagian masyarakat, (2) apabila masyarakat diglosis itu menyatu
dengan masyarakat lain.
Di Indonesia situasi diglosia dapat
dilihat dari dua situasi yaitu (1) situasi pilihan bahasa yaitu antara pilihan
bahasa Indonesia dan bahasa daerah. (2) situasi penggunaan varian bahasa yaitu
situasi yang dikenakan pada pilihan ragam dalam bahasa Indonesia yakni ragam
baku dan tidak baku. Tampanya di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari anatara
bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing memiliki kedudukan tinggi dan
rendahnya sesuai dengan situasinya. Dalam situasi resmi personal bahasa tinggi
jatuh kepada bahasa Indonesia,. Kemudian dalam penggunaan ragam baku dan tidak
baku tampak ragam baku merupakan ragam tinggi dan ragam tidak baku merupakan
ragam rendah.
Menurut Kridalaksana(1976) ragam
baku sebagai ragam tinggi digunakan dalam:
1.
Komunikasi resmi
2.
Wacana teknis
3.
Pembicaraan di depan umum
4.
Pembicaraan dengan orang yang dihormati
Sedangkan dalam ragam tidak baku
sebagai ragam rendah digunakan dalam:
1.
Tawar-menawar di toko
2.
Ceramah dalam suasana tidak resmi
3.
Percakapan dengan sejawat
4.
Percakapan dengan anggota keluarga
Pada intinya, Diglosia menitik
beratkan pada logat/dialeg ciri khas suatu daerah.Bahasa yang digunakan sudah
bercampur dengan variasi bahasa suatu daerah.Misalnya : dialeg, variasi yang
lebih dimunculkan. Contoh dioglosia dalam bahasa jawa : go, re, to, tah, leh,
dsb
2.3 HUBUNGAN
BILINGUALISME DAN DIGLOSIA
Hubungan antara bilingualisme dan diglosia. Diglosia
diartikan sebagai adanya perbedaan fungsi atas penggunaan bahasa( terutama
fungsi T dan R) dan bilingualisme adalah keadaan penggunaan dua bahasa secara
bergantian dalam masyarakat, maka Fishman (1977) menggambarkan hubungan
diglosia dan bilingualisme itu seperti tampak dalam bagan.
Diglosia
Bilingualisme
|
+
|
-
|
|
+
|
Diglosia dan Bilingualisme
|
Bilingualisme tanpa Diglosia
|
|
-
|
Diglosia tanpa Bilingualisme
|
Tanpa diglosia
Tanpa bilingualisme
|
1.
Bilingualisme dan Diglosia
Masyarakat bilingual dan diglosis yaitu
masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara
bergantian, namun masing-masing bahasa mempunyai peranannya masing-masing.
Contohnya masyarakat Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
dan bahasa daerah sebagai bahasa intrakelompok. Seperti dalam data di bawah
ini.
a. Sabar,
pertanyaan Panjenengan pasti terjawab semua!
Dalam kalimat tersebut penutur
mengetahui ragam dan fungsinya dengan baik. Kata panjenengan termasuk ragam
bahasa Jawa T dan digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua maupun yang
lebih tinggi kedudukannya.
Contoh lain misalnya, seorang artis
yang sedang melakukan wawancara, sering menggunakan bilingualisme dan juga
diglosia. Faktor diglosia lebih pada hal prestise.
b. Saya berencana
akan go international tahun ini.
Go international menunjukkan prestise
seorang artis yang menganggap bahwa bahasa Inggris adalah bahasa T, dan bahasa
Indonesia adalah bahasa R-nya. Selain contoh di atas, orang Madura yang
berkomunikasi dengan orang Jawa sering menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa
Jawa dengan menggunakan logat Madura. Seperti pada data berikut.
c.
Sampeyan mau beli sate berapa tusuk?
Kata sampeyan dalam bahasa Madura dan
bahasa Jawa fungsinya sama, yaitu untuk komunikasi dengan orang yang tidak
dikenal, maupun orang yang lebih muda tetapi tetap disegani. Hal ini sudah
termasuk pada diglosia, dan untuk mendukung ke-diglosia-nya ini, penutur
mengucapkan tuturan tersebut dengan logat Madura. Selanjutnya penutur
menggunakan bahasa Indonesia yang menunjukkan ke-bilingual-nya.
2.
Bilingualisme tanpa Diglosia
Percampuran/
penggunaan dua bahasa tanpa ditambai diglosia. Bisa terjadi ketika seseorang
bercampur kode, bahasa Indonesia disisipi bahasa jawa.
Misalnya :
a. Kapan kamu bayar utang?
b. Bagaimana
bisa kamu dapat duit?
3. Diglosia tanpa bilingualisme:
Tanpa penggunaan dua bahasa tapi
menggunakan diglosia. Bahasa jawa disisipi diglosa atau bahasa indonesia di
sisipi diglosa.
Misalnya :
a.
Wesgo ojo nanges. (bahasa jawa
yang disisipi diglosa go,ciri khas
kota pati)
b. Jangan begitu to. (bahasa Indonesia + diglosa to)
4.
Tanpa bilingualisme tanpa diglosia :
Hanya menggunakan satu bahasa dan
tanpa menggunakan diglosia. Hanya menggunakan bahasa indonesia saja atau bahasa
jawa saja.
Misalnya :
a. Joko sedang membaca novel
di kamar.
b. Aku ora seneng maca novel.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bilingualisme adalah kebiasaan
penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat bahasa. Berdasarkan kemampuan penuturnya
bilingualisme dapat dibagi atas dua kategori yakni: Bilingualisme
setara(coordinate bilingualism) adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur
yang memiliki penguasaan secara relatif sama. Dalam bilingualisme demikian, ada
proses berpikir yang konstan(tidak mengalami kerancuan) pada bahasa yang
dikuasi dan sedang digunakan. Dan bilingualisme majemuk(compound bilingualism)
adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur yang mengalami proses berpikir
pada seorang bilingual yang bersifat rancu atau kacau dan menggunakan bahasa
yang tidak sama.
Diglosia adalah fenomena penggunaan
bahasa yang dipertimbangkan pada fungsinya.Diglosia terjadi baik pada
masyarakat monolingual maupun bilingual.Pada masyarakat monolingual diglosia
adalah penggunaan ragam bahasa sesuai dengan pertimbangan fungsi setiap
ragam.Sedangkan diglosia dalam masyarakat bilinguall adalah penggunaan tidak
hanya pada penggunaan ragam, tetapi juga penggunaan bahasa sesuai dengan
fungsinya.
Hubungan antara bilingualisme dan
diglosia terletak pada titik temu dan titik pisah.Hubungan titik temu berupa
beradanya atau tidak beradanya bilingualism dan diglosia.Sedangkan hubungan
titik pisah berdasarkan beradanya salah satu fenomena atau tidak adanya salah
satu fenomena. Ada empat tipe hubungan bilingualisme dan diglosia yaitu : (1)
diglosia dan bilingualisme, (2) tipe bilingualisme tanpa diglosia, (3) tipe
diglosia tanpa bilingualisme , dan (4) tipe tanpa diglosia dan tanpa
bilingualisme.
DAFTAR PUSTAKA
http://aveiro-version.blogspot.com/2012/12/bilingualisme-diglosia-alih-kode-dan.html
(14/4/2015/20:25)
http://vielovery-sastraindonesia.blogspot.com/
(14/4/2015/20:30)
Suwito.1985.
Sosiolinguistik Pengantar Awal.
Surakarta: Henary Offset Solo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar